19 Januari 2020
Home Nasional Berita
BANDARLAMPUNG

Indonesia-UEA Promosikan Moderasi Beragama

Menag Fachrul Razi dan Ketua Otoritas Umum Bidang Urusan Islam dan Wakaf UEA Mohammed bin Matar al Kaabi disaksikan Presiden Jokowi dan Putra Mahkota dan Wapangti Angkatan Bersenjata UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Minggu (12/1/2020). | Kemen

BANDARLAMPUNG (suarapedia)-Dua sahabat, Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) sepakat menjalin kerja sama erat dalam urusan agama Islam dan wakaf. Kerja sama bilateral tertuang dalam Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani Menteri Agama RI Fachrul Razi dan Ketua Otoritas Umum Bidang Urusan Islam dan Wakaf UEA Mohammed bin Matar al Kaabi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), dan Putra Mahkota dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, khidmat menyaksikan penandatanganan MoU bagian dari agenda kunjungan kerja kenegaraan pemerintah RI ini, dalam kesempatan pertemuan di Istana Kepresidenan Qasr al-Wathan, Abu Dhabi, Minggu (12/1/2020) waktu setempat.

“Alhamdulillah, saya beserta Ketua Otoritas Umum Bidang Urusan Islam dan Wakaf UEA telah menandatangani MoU tentang urusan agama Islam. Salah satu poin penting sinergi ini adalah promosi moderasi beragama dan bahaya ekstrimisme," jelas Fachrul dalam siaran pers yang diterima redaksi, Minggu. 

Selain Dubes LBBP RI untuk UEA Husin Bagis dan tim KBRI Abu Dhabi, Sekjen Kementerian Agama (Kemenag) Prof M Nur Kholis Setiawan yang hadir mendampingi menjelaskan sejumlah isu kerja sama itu.

Pertama, pertukaran pengalaman dan keahlian untuk mempromosikan konsep-konsep moderasi beragama, nilai-nilai toleransi, dan meningkatkan kesadaran publik dalam menghadapi bahaya ekstrimisme.

Kedua, pengembangan kapasitas imam, khatib, dan mufti melalui berbagi praktik terbaik. "Ketiga, pertukaran keahlian di bidang penghafalan Alquran, pembacaan dan terjemahan Alquran dan Sunnah," papar sekjen sejak 5 Oktober 2018, bekas Dirjen Pendidikan Islam dan Irjen Kemenag ini.

Yang keempat, pertukaran pengalaman di bidang manajemen wakaf, pengembangan dan investasinya. Kelima, bertukar cetakan, publikasi, dan terjemahan Kitab Suci Alquran serta hasil cetakan, hasil penelitian, publikasi, dan majalah.

Keenam, pertukaran keahlian dalam pembangunan, pemeliharaan dan pengelolaan masjid, yang bertujuan untuk mempromosikan masjid sebagai tempat ibadah dan bimbingan keagamaan moderat yang aman.

“Terakhir, pertukaran delegasi dan peserta di semua tingkatan dan partisipasi pada forum, konferensi, dan Musabaqah Alquran,” guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, mengimbukan dua rencana pembicaraan.

Yakni rencana bantuan hibah pembangunan fisik Grand Mosque Muhamed bin Zayyed di Solo, Jawa Tengah, bagian komitmen RI-UEA membangun masjid yang ramah bagi semua orang, penyebaran Islam wasathiyah dan moderasi beragama, serta rencana kerja sama penguatan e-pembelajaran madrasah. 

Pengingat, kunjungan Presiden Jokowi ini balasan atas kunjungan Putra Mahkota dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan ke Indonesia, 24 Juli 2019 lalu.

Kala itu, Istana Bogor menjadi saksi kedua pemimpin membahas kerja sama ekonomi dan keumatan, usai acara penyambutan dan pertukaran sembilan dokumen Nota Kesepahaman antar kedua negara.

Dikutip dari laman Kementerian Luar Negeri, ke-9 MoU meliputi peningkatan perlindungan investasi, penghindaran pajak berganda, industri, kepabeanan, pariwisata, kelautan dan perikanan, pertahanan, kekonsuleran, dan kebudayaan. Selain, ditandatangani pula tiga Nota Kesepahaman antar pelaku usaha (B to B) bernilai total sekitar Rp136 triliun.

H-1 kunjungan Crown Prince UEA saat itu, dalam ?wawancara Metro TV, Dubes Husin berharap kunjungan itu dapat membuka jalan bagi masuknya lebih banyak investasi UEA ke Indonesia. (*/MUZZAMIL)


Tag : Indonesia UEA Jokowi Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan Fachrul Razi

Berita Lainnya

Loading...

©copyright 2018, All right reserved ®www.suarapedia.com