18 Juli 2019
Opini

Terpujilah Engkau ibu Bapak Guru

Oleh: Andi Surya *

Setiap tahun saya mengikuti graduation di Sekolah Global Surya, saya melihat dan menyaksikan siswa-siswi yang akan diwisuda dengan upacara khidmat mengundang kepala daerah dan tokoh-tokoh pendidikan. Selalu ada yang tercekat dalam kerongkongan saya ketika ada sesion siswa-siswi ini mendendangkan lagu koor perpisahan dengan gurunya.

Mengapakah demikian? Ada lantunan lagu yang dibawakan dengan koor bersama ini hingga seratusan anak-anak dari SD hingga SMP Global Surya yang menyanyikan lagu bertema guru. Dengan seksama, saya di barisan kursi depan mendengarkan lantunan itu, diiringi denting dawai piano, lembut mengalun memasuki gendang telinga.

Padahal lagu ini hampir setiap tahun dua kali saya dengar dengan penuh khidmat yaitu di acara wisuda UMITRA maupun Graduation Sekolah Global Surya ini. Namun getaran selalu ada dalam hati dan bathin ketika alunan dan kalimat lagu itu indah menerobos telinga ~ 'terpujilah wahai ibu bapak guru, namamu akan selalu hidup dalam sanubariku...' ~ begitu salah satu kalimat lagunya.

Terkadang ada setitik genangan air di pelupuk mata akibat getaran hati yang terbawa emosi dan haru mendengar lagu yang dinyanyikan anak-anak ini secara penuh perasaan. Kenapa? Saya memahami, sebagai praktisi pendidikan, bagaimana sulitnya seorang guru melakukan tugas mendidik, setiap hari, setiap waktu dalam proses mendidik di dalam kelas maupun di luar kelas. IKLAN KPU

Dalam susah dan senang seorang guru melakukan tugasnya dengan hati terbuka dan ikhlas, berusaha melenyapkan segala persoalan pribadi, menghilangkan segenap kepentingan dan ego, dan mengutamakan perhatian kepada anak didik. Itu dilakukan sepanjang hari dan bertahun-tahun. Dalam graduation ini adalah momentum khidmat perpisahan murid dengan gurunya. Tentu ada suasana bathin yang membawa emosi akan berpisah membawa keharuan dan kesedihan, baik guru maupun murid.

Di sisi lain, guru merasakan kenangan mendidik. Ada anak didik yang baik, mudah diarahkan, namun juga terkadang banyak pula yang sulit untuk dbina dan mengubah karakter menuju watak yang sempurna. Namun guru tidak pernah menyerah karena mereka dibekali ilmu mengajar atau ilmu pedagogik. Proses itu merupakan hal yang selalu ditemui dan dihadapi para guru, dan tentu membawa kenangan dengan murid-muridnya yang secara emosional terpaut dan tidak bisa lepas begitu saja dalam bathin sebagai seorang pendidik.

Dalam khidmat upacara graduation itu, ada nyanyian lantunan lagu di mana anak-anak didik yang akan di wisuda dan akan melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, segera berpisah, akan lepas dari pandangan mata dan pembinaan guru yang selama ini dekat dan selalu ada untuk kepentingan murid-murid.

Saya tahu ini, para guru dan kepala sekolah tercenung, terbawa emosi dan tertunduk haru atas nyanyian koor murid-murid ini yang sebentar lagi akan lepas dari pandangan mata mereka. Sama seperti yang saya rasakan. Saya yakin di hati mereka mendoakan agar anak-anak ini akan mendapat kehidupan dan masa depan yang baik, bahagia, dan sukses.

Begitu pun saya yakin, bahwa anak-anak ini menyanyikan lagu dengan khidmat penuh perasaan sembari mengenang hari-hari indah yang dilalui bersama gurunya dalam tawa dan canda serta keseriusan dalam menuntut ilmu di Sekolah Global Surya.

Selamat jalan anak-anakku, begitu sayup-sayup terdengar dari suara bathin para guru. Dan para murid menyanyikan lagu koor perpisahan itu dengan lebih khidmat dan penuh kecintaan kepada gurunya ...

~  Engkau sebagai pelita dalam kegelapan... Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan... Terpujilah wahai ibu bapak guru, Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku...~ 

* Ketua Yayasan Global Surya

Berita Lainnya

Loading...

©copyright 2018, All right reserved ®www.suarapedia.com